Trio pop alternatif Cassette Tape merilis “Dear Diary”, single terbaru yang menyorot ruang cinta yang polos, spontan, dan sedikit kacau—sebuah potongan jujur dari fase hidup di usia 22 tahun. Jika “Newsflash” sebelumnya berbicara tentang pertarungan batin dan keputusan berat, maka “Dear Diary” menampilkan sisi lain dari proses tumbuh dewasa: ringan, bebas, menyenangkan, namun tetap meninggalkan jejak emosional yang dalam.
“Dear Diary” merangkum manis-getirnya jatuh cinta. Alih-alih terjebak dalam kesedihan terhadap hal yang mungkin tidak bertahan lama, Cassette Tape memilih untuk merayakan rasa bahagia dan kebebasan yang hadir di setiap momen.
“Kami berusaha tidak fokus pada sisi negatifnya. Kami terus mencari hal-hal menyenangkannya,” ujar vokalis Sarah Azka. “Itu sebabnya aransemennya upbeat dan liriknya playful. Ini cara yang lebih positif untuk melihat sesuatu yang sebenarnya cukup menyedihkan.”
Sebagaimana judulnya, lagu ini terasa seperti membuka buku harian pribadi—penuh pikiran yang spontan, kadang tidak teratur, namun selalu jujur.
“Buat aku, diary itu ruang personal, ditulis untuk diri sendiri. Kadang berantakan, tapi apa adanya. Lagu ini juga seperti itu, polos dan tulus,” tambah Azka.
Lagu ini bermula dari draft sederhana tulisan Azka, kemudian berkembang menjadi karya penuh bersama Farrel Cahyono (bass) dan Joe Pramudio (gitar). “Dear Diary” membawa pendengar kembali ke masa-masa muda yang bingung namun menyenangkan, di mana cinta bisa jadi sumber tawa sekaligus kegelisahan.
Sebagai single terakhir menuju perilisan album debut “Records 2 Relate 2”, karya ini menjadi penutup yang menggambarkan transisi emosional Cassette Tape dari remaja menuju kedewasaan, dibalut 14 lagu yang semuanya lahir pada usia 22 tahun.














