Girl and Her Bad Mood Rilis Album Penuh Debut “Pop Songs, Sad World”

girl-and-her-bad-mood-rilis-album-penuh-debut-pop-songs-sad-world

Band indie pop/rock alternatif asal Malang, Girl and Her Bad Mood (GAHBM), resmi melepas album penuh debut bertajuk Pop Songs, Sad World melalui Haum Entertainment. Album ini memuat 12 lagu yang merekam keresahan generasi muda dalam fase quarter-life crisis—dipenuhi rasa cemas, kesedihan, kegagalan, sekaligus keberanian untuk tetap melangkah.

Judul Pop Songs, Sad World muncul setelah semua track selesai. Mayoritas lagu-lagu di album ini masih berpusat pada kesedihan, meski ada juga yang bernuansa bahagia dan jatuh cinta. Intinya, ini adalah kumpulan lagu pop yang menemani para pendengar saat menghadapi rasa sedih mereka,” jelas Bima Geraldi (gitar/vokal).

Album ini lahir dari realita yang dialami para personel GAHBM setelah menuntaskan masa kuliah dan mulai memasuki fase hidup baru. Tema-tema seputar kecemasan, rasa takut gagal, kesepian, hingga keberanian untuk bangkit kembali menjadi pondasi lirik di sepanjang album.

Banyak dari kami perantau, harus menghadapi hidup jauh dari rumah, bahkan mulai menanggung diri sendiri atau keluarga. Realita itu akhirnya banyak dituangkan dalam lirik album ini,” tambah Bima.

Jane Maura (bass/vokal) menambahkan, “Album ini adalah refleksi dari perjalanan kami sebagai anak muda usia 25-an, penuh dengan kegamangan namun juga semangat untuk tetap melanjutkan hidup.

Selain eksplorasi tema, GAHBM juga berani bereksperimen dengan sound baru. “Secara musikal, kami mencoba progresi chord yang lebih beragam, memadukan elemen pop dengan sentuhan rock dan pengaruh band Jepang seperti Luby Sparks, Nav Katze, dan For Tracy Hyde,” ungkap Jane.

Seluruh materi direkam di Haum Studio dan Creatorix Studio, dengan supervisi Dheka Satria dan Axel Kevin. Mixing dan mastering ditangani oleh Zeruya Anggraita (Up Music Studio), sementara desain sampul dikerjakan oleh Magesta Putra dan Uzed (Pucatpena).

Beberapa single seperti Chani, I Believe, Loves Hates Loves, dan Heals telah lebih dulu dirilis. Lagu Forced a Smile (I Will Always) juga baru saja hadir dalam format video lyric visualizer pada 2 September 2025.

Proses albumnya panjang dan penuh tantangan, tapi justru dari situ kami bisa menemukan bentuk terbaik karya ini. Forced a Smile bahkan muncul spontan di saat kami stuck, dan jadi salah satu track favorit di album,” ujar Bima.

Terbentuk pada 2018 di Malang dari lingkar pertemanan kampus FISIP Universitas Brawijaya, GAHBM kini digawangi oleh Bima Geraldi (gitar/vokal), Jane Maura (bass/vokal), Daffa Hanafi (gitar), Danang Seloaji (drum), dan Handy Wandhawa (synth). Sejak mini album Bluest Year (2019), mereka konsisten merilis karya yang merekam keresahan anak muda, hingga akhirnya menelurkan album penuh debut ini.

Untuk merayakan perilisan album, GAHBM akan menggelar showcase spesial bersama Coldiac dan Eastcape, memainkan repertoar dari Bluest Year hingga Pop Songs, Sad World. Mereka juga tengah menyiapkan tur dan beberapa video musik baru.

Harapan kami, album ini bisa menemani pendengar yang sedang berada di fase hidup yang sama. Semoga mereka bisa menemukan sedikit pelipur di balik lagu-lagu ini,” tutup Bima.

Artikel Terkait