Teknologi AI untuk membuat musik berkembang sangat cepat, dan 2025 jadi tahun di mana industri musik akhirnya “berdamai” dengan sesuatu yang awalnya mereka anggap sebagai ancaman besar. Setelah setahun lebih berdebat di ruang hukum, tiga label raksasa—Universal, Warner, dan Sony—tiba-tiba mengambil langkah berbeda: mereka justru memilih bekerja sama.
Apa yang Terjadi?
Akhir 2025 penuh kejutan. Dalam waktu kurang dari sebulan, rangkaian deal besar diumumkan:
• 29 Oktober 2025 – Universal Music Group mengakhiri gugatan terhadap Udio dan langsung mengumumkan kerja sama.
• 19 November 2025 – Warner Music Group mengikuti langkah yang sama.
• 20 November 2025 – Universal, Warner, dan Sony masing-masing meneken perjanjian lisensi dengan Klay Vision, startup AI yang sejak awal bermain secara resmi.
• 25 November 2025 – Warner menutup kesepakatan dengan Suno dan mengumumkan kolaborasi komersial. Suno bahkan sekalian membeli Songkick dari Warner sebagai bagian dari deal.
Yang menarik: ini bukan kerja sama kecil-kecilan. Label besar memberikan akses penuh ke rekaman master, stems, multitracks, hingga katalog publishing mereka untuk melatih model AI musik. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan kontrol penggunaan, model royalti baru, dan posisi strategis dalam ekosistem musik berbasis AI.
Dalam satu langkah besar, sikap industri berubah total: dari berlawanan, menjadi merangkul.
Dari Musuhan Jadi Mitra
Bagi yang mengikuti sejarah teknologi musik, pola ini sebenarnya mirip. Kita sudah pernah lihat saat era Napster, lalu kemunculan Spotify. Awalnya label besar reaktif—menggugat, mengecam, minta regulasi. Tapi ketika mereka sadar teknologi itu tidak akan hilang, mereka memilih opsi yang lebih cerdas: ikut masuk, lalu mengatur dari dalam.
Hal yang sama terjadi dengan AI music. Suno, Udio, dan platform sejenis sempat dianggap “pencuri katalog.” Tapi ketika teknologi makin matang dan peminatnya makin banyak, label besar akhirnya melihat peluang yang jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan gugatan: mengendalikan arah ekosistemnya.
Mengapa Ini Memang Sudah Mengarah ke Sana
Label besar memang jarang berhasil menghentikan teknologi yang disukai konsumen. Yang mereka kuasai adalah mengubah ancaman menjadi alat baru dalam bisnis mereka. Dengan memberi lisensi resmi kepada platform AI, mereka sebenarnya sedang membangun pagar: hanya yang berlisensi yang boleh bermain di liga besar.
Ini memberi mereka kekuatan untuk menentukan:
• aturan atribusi,
• skema royalti baru,
• siapa yang boleh masuk ke dataset AI,
• hingga bagaimana platform streaming memperlakukan musik buatan AI.
Mereka tidak kalah. Mereka mengambil alih.
Apa Dampaknya ke Industri?
Masih banyak hal yang belum jelas, tapi beberapa kemungkinan sudah terlihat.
1. AI bisa jadi “katalog kedua”
Label bisa memproduksi musik dalam jumlah masif dengan biaya sangat rendah. Tidak menggantikan musisi manusia sepenuhnya, tapi menjadi sumber katalog baru yang hampir tak ada batasnya.
2. Royalti berbasis pengaruh (influence-based royalties)
Ada kemungkinan tiap rekaman yang “mempengaruhi” output AI akan mendapatkan mikro-royalti otomatis. Konsepnya menarik, tapi tantangannya besar: data atribusi bisa sangat kompleks kalau satu lagu AI mengambil gaya dari ratusan sumber.
3. Dunia AI akan terbagi dua
Platform yang punya lisensi dari label besar bisa bermain di pasar mainstream. Yang tidak punya kemungkinan hanya bertahan di pasar kecil, komunitas open-source, atau kategori eksperimental.
4. Kekuatan baru terhadap platform streaming
Kalau Spotify, Apple Music, atau YouTube mulai merilis fitur berbasis AI—seperti playlist otomatis, radio mood, atau rekomendasi yang dihasilkan AI—label besar punya daya tawar besar. Mereka memegang sumber data dan model yang dibutuhkan.
⸻
AI music masih berkembang. Belum ada yang benar-benar tahu bentuk akhirnya seperti apa. Tapi yang sudah terlihat jelas, 2025 adalah titik balik besar—tahun ketika label besar tidak lagi melawan AI, tapi mulai membangun masa depan musik bersamanya.
