FUFU CLAN Rilis “KRL”: Perjalanan Komuter Jadi Analogi Kehidupan

fufu-clan-rilis-krl-perjalanan-komuter-jadi-analogi-kehidupan

Unit punk alternatif asal Jabodetabek, FUFU CLAN kembali menunjukkan konsistensinya di tahun 2025 lewat rilisan terbaru mereka bertajuk “KRL”. Single ini tak hanya menjadi bentuk eksplorasi musikal mereka, tetapi juga metafora yang reflektif atas dinamika sosial yang terjadi di dalam gerbong kereta—tempat asing yang mempertemukan banyak cerita manusia.

Dibentuk oleh Hara (bass), Elsha (vokal), dan Faizu (drum & produser), kali ini FUFU CLAN menggandeng Christo Julivan, vokalis band Pvlette, sebagai kolaborator vokal. “Sebetulnya nggak ada motivasi yang filosofis banget, kita memang pengin ada featuring,” ujar Hara. “Christo yang paling antusias dan cepat merespon. Di skena, kita memang sering saling bantu.”

Lewat “KRL”, FUFU CLAN menggambarkan kehidupan sebagai perjalanan lintas stasiun. “Penumpang KRL itu datang dari latar belakang berbeda, tapi untuk waktu tertentu mereka berada di satu ruang yang sama. Lagu ini adalah bentuk selebrasi FUFU CLAN terhadap sisi kemanusiaan dari kehidupan urban,” ungkap Elsha, sang vokalis.

Lebih jauh, Faizu menambahkan bahwa “KRL tidak pernah memilih siapa yang menumpang. Ia hanya berjalan, dan menjadi ruang terbuka yang inklusif.” Refleksi ini kemudian diolah ke dalam bentuk aransemen yang menggambarkan atmosfer khas perjalanan komuter — mulai dari keramaian stasiun, ketergesaan jam sibuk, hingga turunnya penumpang di stasiun tujuan.

Diproduseri langsung oleh Faizu dan direkam di Fufu Tunes Studio, lagu ini menyajikan pengalaman sonik yang sinematik. “Kami ingin pendengar merasakan vibe seperti sedang benar-benar naik KRL: mulai dari desakan saat masuk gerbong, lalu transisi menuju bagian yang lebih kalem seperti saat kereta hampir sampai,” terang Faizu.

Menariknya, “KRL” bukan hanya sekadar lagu, tetapi menjadi pembuka dari rencana proyek panjang FUFU CLAN bertema transportasi publik di Indonesia. “Kita pengin angkat semua bentuk moda transportasi jadi lagu. Dari Transjakarta sampai kapal ferry mungkin—doain aja lancar,” tutup Hara dengan antusias.

Artikel Terkait