Setelah konsisten merilis karya yang berakar pada kritik sosial, Irsyad Agni kembali menegaskan sikapnya melalui single terbaru berjudul “86”. Dalam rilisan ini, ia menggandeng rapper asal Kepulauan Kei, Drewgon, menghadirkan kolaborasi lintas latar yang menumpuk perspektif baru: tentang manusia, kekerasan, dan kebisuan yang menormalisasi tragedi.
“86, seolah aman ketika disebut, tak ada soal yang harus dilanjut,” tulis Irsyad dalam pesan personalnya. Kalimat itu menjelma menjadi fondasi lagu ini—sebuah ironi atas budaya “damai” yang sebenarnya hanya menutup kasus, menutup suara, dan menutup mata. “86” mengajak pendengar mempertanyakan harga sebuah nyawa di negeri yang sering merasa aman sebelum waktunya.
Secara musikal, “86” menandai evolusi kreatif Irsyad. Ia meracik akarnya—rock blues klasik—dengan tekstur elektronik modern yang dingin dan berlapis. Nada-nadanya membangun atmosfer tegang; gitar yang menggeram, drum yang menghentak, dan elemen elektronik yang terasa seperti denyut gelisah yang menunggu meledak. Lagu ini berdiri sebagai potret sonik dari konflik antara suara nurani dan dunia yang makin kehilangan empati.
Masuk ke verse kedua, Drewgon menyisipkan perspektif timur Indonesia. Dengan lirik yang puitis namun tajam, ia mengangkat isu yang kerap tenggelam: tentang alam sebagai korban dari ketidakadilan manusia. Dari Kei, ia menyuarakan luka ekologis—kehilangan hutan, laut yang rusak, dan tanah yang dirampas. “86” pun berkembang menjadi seruan bahwa penderitaan bukan hanya dialami manusia, tetapi juga bumi yang terus dipaksa menanggung beban.
Lebih dari sekadar lagu protes, “86” berdiri sebagai ajakan untuk tidak pasrah. Kolaborasi ini menyatukan keresahan dari dua wilayah berbeda, mengingatkan bahwa keadilan tidak akan muncul dari diam. Irsyad dan Drewgon mengajak kita melihat kembali apa arti “keamanan” ketika banyak hal dibiarkan selesai tanpa pernah benar-benar diselesaikan.



















