Musisi Pop Alternatif A Kid Named Rufus Bagikan Semangat Positif Dalam Single “Tryhard”

Menjalani masa transisi menjadi orang dewasa merupakan proses yang menegangkan, bahkan dalam situasi yang terbaik sekalipun. Bagi musisi bedroom-pop asal Malaysia, Rufus Sivaroshan, yang lebih dikenal sebagai a kid named rufus, perjalanan meninggalkan rumah terasa jauh lebih menantang. Rufus kini berusia 20 tahun dan sedang mengambil studinya di Syracuse University, New York, Amerika Serikat di mana ia mengambil jurusan bisnis musik sekaligus menjalani karir musiknya yang sedang berkembang.

Kini, a kid named rufus membagikan single terbarunya yang berjudul “tryhard” yang dirilis melalui label musik Nettwerk. Lagu yang dibanjiri permainan synth ini (ditulis bersama Benji Cormack dari slenderbodies) lahir dari sebuah dorongan untuk menciptakan suatu karya yang cerah dan menyenangkan. Single ini bercerita tentang melepaskan segala tekanan dalam hidup dan membebaskan diri kita dari tanggung jawab.

Tentang single barnya, a kid named rufus bercerita: “‘tryhard’ adalah lagu yang kubuat dengan sangat cepat, karena sebagai seseorang yang berjuang dengan ADD (attention deficit disorder) dan gangguan kecemasan, aku selalu memikirkan setiap hal kecil dan memastikan semuanya sesempurna mungkin. Namun terkadang kita tidak harus melakukan hal tersebut, terkadang, tak apa-apa bagi kita untuk beristirahat sejenak. Aku rasa aku tidak pernah menulis lagu yang semenyenangkan ‘tryhard’, dan aku sepenuhnya berterima kasih pada Benji yang telah membantu mendorong batas-batasanku. Ia mengirimkan sebuah alunan instrumental yang aku gunakan untuk menulis lirik di kamar asramaku di tahun kedua. Ketika aku terbang ke Austin, Texas untuk menyelesaikan lagu ini bersamanya, semuanya berjalan dengan sangat alami.

Menulis ‘tryhard’ terasa seperti resolusi yang baik untuk mengatasi stres dan tekanan yang aku alami saat pertama pindah dan menetap di Amerika.”

Pada akhir Januari, a kid named rufus dengan bangga merilis single perdananya dengan Nettwerk yang berjudul, “eighteen ft. Cole Bauer”, sebuah single penuh perasaan yang mengangkat tema optimisme anak muda, dengan melodi menawan, dan irama alt-pop yang menyentuh hati. Single ini meraih sambutan hangat di Asia, dan diliput berbagai media termasuk NYLON Manila, Fly FM (Malaysia), Bandwagon (Asia), dan Juice Malaysia, serta masuk ke berbagai playlist di Spotify seperti Hot Hits Malaysia, Indie Shuffle, ORG, dan banyak lagi.

Dengan segudang inspirasi musik yang beragam mulai dari Weezer, Alex G, Mac Demarco, dan Dayglow, Rufus tumbuh dewasa di Kuala Lumpur, Malaysia di mana ia belajar menulis, bermain musik, dan memproduksi musik sendiri lewat bantuan YouTube. Pada musim gugur 2021, a kid named rufus merilis EP perdananya, ‘graduation’, yang menampilkan sejumlah lagu bernuansa indie pop yang easy-listening dan melukiskan suasana kebahagiaan murni yang juga berhasil mengumpulkan lebih dari 1,5 juta stream di Spotify.

“Aku menghabiskan separuh waktuku di Asia Tenggara, di mana ada orang-orang sepertiku, dan aku menghabiskan separuh waktuku di Amerika Serikat, di mana tidak ada orang-orang sepertiku. Kamu tidak bisa banyak menemui musisi berkulit coklat, queer, dan non-biner. Dan tidak banyak juga musisi di Amerika Serikat yang merupakan seorang imigran. Sekarang, gabungkan keempat hal tersebut. Itulah aku.”
– a kid named rufus

Berbagai rintangan dalam perjalanan Rufus tergambarkan dalam album perdananya yang jujur dan terbuka dan akan dirilis di akhir tahun ini. Album baru ini merupakan kumpulan lagu penuh semangat namun tetap menyentuh dengan tema rasa rindu akan kampung halaman, proses pendewasaan, cinta, hawa nafsu, culture shock, dan masih banyak lagi.

Meskipun berbasis di belahan dunia lain, Rufus telah mengembangkan basis penggemar yang signifikan di Asia. Saat ini Indonesia masuk ke deretan negara-negara yang paling sering mendengarkan musiknya.

Artikel Terkait