Ritus Liyan: Superposisi Pesisir — Mengurai Ingatan dan Identitas Pesisir Melalui Seni

ritus-liyan-superposisi-pesisir-mengurai-ingatan-dan-identitas-pesisir-melalui-seni

Dalam upaya memperluas peran seni sebagai medium penghubung pengetahuan, Ritus Liyan: Superposisi Pesisir hadir sebagai inisiatif kolaboratif dari AIIOC dan Biennale Jatim XI, bertempat di kawasan pesisir Kelurahan Lumpur, Gresik. Program ini tidak sekadar menawarkan pengalaman artistik, melainkan juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan refleksi kritis terhadap kehidupan pesisir yang sarat sejarah, tekanan industrialisasi, dan upaya bertahan hidup.

Mengangkat konsep superposisi—istilah dari fisika kuantum yang menggambarkan keberadaan banyak kemungkinan secara bersamaan—program ini mengajak seniman dan warga untuk membaca ulang relasi antara tubuh, ruang, dan memori. Pesisir bukan lagi dipandang sebagai batas fisik semata, tetapi sebagai ruang hidup yang cair, penuh konflik dan harapan.

Selama lima hari residensi (28 April – 2 Mei 2025), sembilan seniman lintas disiplin berinteraksi intensif dengan warga, didampingi lima mentor dari berbagai bidang riset dan artistik. Proses ini berpuncak pada pameran publik yang berlangsung 30 Mei – 1 Juni 2025, tersebar di sejumlah titik di Kecamatan Lumpur – Sindujoyo, Gresik.

Melalui karya-karya yang menyentuh tema tanah, lumpur, air, trauma ekologis, serta narasi lisan yang hidup dalam keseharian warga, Superposisi Pesisir menjelma menjadi ruang negosiasi antara lanskap industri dan lanskap batin. Seni menjadi bahasa yang lentur—mengikat yang tercerai, menggugat dominasi, dan merayakan kerapuhan sebagai kekuatan kolektif.

Yang menarik, warga tidak diposisikan sebagai objek atau subjek representasi, tetapi sebagai ko-kurator yang turut menyumbang ide, cerita, dan perspektif. Inilah yang menjadikan Ritus Liyan berbeda—bukan hanya proyek seni, tapi juga medan tafsir atas kompleksitas sosial-budaya di pesisir Jawa Timur.

Keterlibatan aktif warga dan pendekatan transdisipliner yang diterapkan menjadikan program ini sebagai pondasi awal Biennale Jatim XI, yang secara tematik akan berfokus pada praktik budaya dan kehidupan pesisir di Jawa Timur.