Duka mendalam menyelimuti dunia musik dan penyiaran Indonesia. Gusti Irwan Wibowo—yang akrab disapa Gustiwiw—telah berpulang pada Minggu, 15 Juni 2025. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh manajernya, Pinkan, dan segera menyebar di media sosial serta ruang duka digital milik para sahabat, rekan, dan penggemarnya.
Dalam unggahan terakhirnya di Instagram, kolom komentar berubah menjadi ruang perpisahan kolektif. Deretan ucapan selamat jalan datang dari berbagai kalangan—mulai dari penyanyi muda Naura Ayu, Zee Asadel, Stevan Pasaribu, hingga Vidi Aldiano yang mengungkapkan rencananya untuk berkolaborasi dengan Gusti yang kini tak sempat terwujud.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun… Ah elo baik banget Gus,” tulis aktor dan musisi Iqbaal Ramadhan.
“Selamat jalan Gusti, untuk perjalanan baru di tempat yang lebih indah,” tambah komika Ananta Rispo melalui Instagram Story-nya.
Sebagai musisi, penulis lagu, produser, dan penyiar, Gustiwiw dikenal memiliki kepekaan yang dalam terhadap emosi dan cerita. Lagu-lagu yang digarapnya bersama nama-nama seperti Nadin Amizah, Sal Priadi, Ardhito Pramono, hingga Jebung, membawa warna yang khas: jujur, lucu, hangat, dan menyentuh.
Album solonya Duh Gusti (2023) adalah perayaan musikal yang ringan namun penuh makna. Lewat lagu seperti Cerita Salah Tingkah, Terpapar Asmara, hingga Cantikmu Bijaksana, ia memperkenalkan genre ciptaannya sendiri: endikup alias enak di kuping—campuran jenaka sekaligus cerdas dari berbagai unsur musik pop kontemporer.
Di tengah kesibukannya, Gusti tetap hadir di ruang publik sebagai penyiar dan podcaster, membawa suaranya ke berbagai medium yang menenangkan dan menghibur.
Kepergian Gusti terasa begitu mendadak. Ia sempat aktif membagikan kesehariannya di media sosial hingga malam sebelum kepergiannya. Tak heran jika nama-nama seperti Hindia, Fiersa Besari, Adnan .Feast, hingga Andi Rianto membanjiri kolom komentarnya dengan ekspresi kehilangan dan keterkejutan.
Kini, kita tidak hanya kehilangan seorang musisi, tetapi juga seorang pencerita, sahabat, dan suara yang tulus.
Terima kasih telah menemani hari-hari kami dengan musik, tawa, dan kejujuranmu, Gusti.
Selamat jalan. Suaramu akan terus bergema.
